melamuni hasrat sia-sia, mengetuk jari-jari di keramik
bayang-bayang yang berbayang semu, membuat suasana pelik
binatang-binatang malam berbisik-bisik
mendesak panca-indera untuk mengelabui,
apa yang tengah terjadi. di bilik-bilik
menawan sekali,
detak jantungku yang terlampau cepat
memberi tanda bahwa ia telah kembali.
tidak pernah mengucapkan salam yang tepat,
menyelinap masuk, menyusun cerita belaka.
tidak lucu,
aku tidak pernah suka,
cara kamu membuat segalanya lebih berantakan dari sebelumnya.
jangan terlampau percaya diri,
bahwa aku akan kembali lagi,
melenggang indah menggedor-gedor pintu hatimu,
rela mati sendiri kalau kamu tidak menemani.
dulu kau sendiri yang tusuk-tusuk aku
dengan pisau tumpulmu,
pelan-pelan, lubangnya jadi dalam
membekas, asal kamu tahu.
aku tidak sedikit pun punya niatan
untuk menghapus titik yang aku gores,
dengan spidol permanen di ujung kalimat kita.
pintu sudah ditutup. kunci sudah ditelan.
tidak usah repot-repot mencari.
coba jaga nyawamu sendiri,
supaya dia tidak terbang pergi.
bagaimana?
-d

0 komentar:
Posting Komentar